Oleh : Deasy Christina
Aku masih ingat kala itu…..pertemuan pertama kami. Aku sebal banget karena sudah antri panjang-panjang, tapi harus kehabisan tiket pensi, dimana band idolaku bakal manggung, Nidji! Dan disitulah dia, dengan senyumannya yang tulus….berdiri tepat didepanku saat mengantri. “Nich, satu buat kamu”, katanya sambil menyodorkan tiket yang dimilikinya padaku, sesaat setelah kami keluar dari barisan antrian. Aku Cuma bisa melongo heran. “Nggak papa kok”, katanya lagi. “Temanku baru aja SMS kalo dia nggakjadi dateng. Jadi daripada tiketnya mubazir, buat kamu aja.” Saat itu aku mau mengganti harga tiketnya, tapi dia menolak. Dari situlah kami pertama kali berkenalan.
Nama cowok itu Erentz. Tapi aku lebih suka memanggilnya dengan sebutan Zi. Sejak pensi itu kami tukeran nomor HP dan sering SMS-an. Dia baik banget….dan perhatian banget. Kami sering jalan bareng. Apalagi buat ngeburu aksi-aksi panggung Nidji. Maklum, kita berduatermasuk daftar NidjiholicJ.
Aku merasa begitu nyaman didekatnya. My new bestfriend. Begitulah anggapanku pada Zi…….mulanya! Tapi semua terasa begitu berbeda setelah suatu waktu, aku tanpa sengaja melihatnya jalan bareng cewek di sebuah mall. Dan pas aku klarifikasi…….Zi memang membenarkan kalau itu adalah ceweknya.
Nggak tahu kenapa, saat itu jantungku serasa loncat dari tempatnya. Ada sesuatu yang seakan menghantam keras ke dada. Dan sejujurnya, aku nggak suka dengan perasaan itu. Mungkinkah? Jangankan mengucapkannya…memikirkan kata yang satu itu saja, aku amat enggan. Kubiarkan saja semua itu terkubur dalam,pada alam bawah sadarku.
Dua bulan setelah kejadian di mall itu, aku ternyata harus pindah ke sekolah Zi, karena papa harus tugas di luar daerah. Mama ikut mendampingi dan aku pun dititipkan di rumah tanteyang notabene wilayah sekolah terdekatnya adalah sekolah Zi. What a small world!
Memang…aku jadi bisa lebih sering bertemu dengan Zi, tapi aku juga mulai merasa tertekan dengan pemandangan Zi yang selalu jalan berdua dengan Netta, pacarnya. Ke kantin bareng istirahat dijenguk ke kelasnya. Bahkan Zi bersikap jauh dari akrab denganku saat ia bersama Netta. OMG….aku tahu seharusnya aku nggak merasa semarah ini. Aku nggak berhak. Aku nggak tahu lagi harus kubuang kemana semua perasaan ini.
Sampai datang saat itu…saat dimana setelah Zi sulit sekali untuk dihubungi dan sudah nggak masuk selama 1 minggu. Aku dengar dari Irwan, sahabat dekat Zi, kalau ia mau meneruskan sekolah ke Amrik, tempat ortunya ditugaskan sebagai diplomat.
Maka disanalah aku…di toilet perempuan, terisak tanpa henti. Shock, dan tiba-tiba merasa takut kehilangan. Saat itu….semua perasaanku selama ini seakan tergambar jelas. Aku sudah jatuh cinta padanya. Seakan kalut dikejar waktu yang semakin sempit untuk bertemu dengannya, 2 hari sebelum keberangkatannya,aku memutuskan untuk meneleponnya untuk menyatakan perasaanku padanya. This is mad!! Pikirku. Tapi akupun tak mampu bertemu muka dengannya. Tidak mampu membendung rasa sayangku………yang tak seharusnya kumiliki. Juga tak mampu untuk menahan rasa takut kehilangan, yang akan tergambar jelas di wajahku, serta terbaca jelas di mataku bila aku bertemu dengannya.
***
Suara di line seberang meredup..perlahan terdengar lagi. Suara yang begitu menenangkan. Tanpa pernyataan balik yang akupun tidak mengharapkannya. Mungkin karena takut merasa kecewa mendengar reaksinya. Zi mengajakku untuk mengantarnya ke bandara,tapi aku enggan. Aku memilih untuk tetap begini saja. Perpisahan yang manis ditelepon.
Tibalah hari keberangkatannya. Hari yang mengusik ketenanganku. Dan dalam waktu 2 jam sebelum keberangkatannya, aku berubah pikiran. Kularikan mobil ke bandara. Hanya sekali…pikirku. Sekali ini saja untuk terakhir kali melihat wajahnya dan menatap matanya….yang entah kapan lagi akan bertemu. Aku berlari sekuat tenaga ketika tiba di bandara. Mencari ditengah lalu lalang orang-orang. Daan disitulah dia, berdiri, cukup jauh, tapi cukup jelas untuk saling melihat. Aku terdiam, tidak dapat mendekat karena ada Netta disana. Aku tidak ingin Netta membaca kesedihanku. Aku ingin memastikan paandangan itu…..pandangan Zi. Menyelidik, jikakah ada…somewhere in his heart…walau tak sebesar ruang yang dimiliki Netta,rasa sayangnya padaku.
Ia disana,melihatku pula. Menatap, dengan penuh makna. Kurasa Netta yang berdiri membelakangiku tidak tahu kehadiranku disana. Seakan aku bertanya dari tatapanku padanya, adakah sayangnya padaku? Dan ia mendekap Netta………cukuplah bagiku jawabannya.
***
Mobilku melaju meninggalkan bandara, meninggalkan pemandangan sedih perpisahan itu. Lagu Nidji mengiringi lajuku. Mengingatkanku saat pertama kali bertemu dengannya. Mengingatkanku saat hunting sebagai Nidjiholic bersama. Mengingatkan gambaran perasaanku saat ini…..hapus aku. Ya……hapus aku.
Yakinkan aku Tuhan….dia bukan milikku,
Biarkan waktu……waktu…..
Hapus aku…….
Nama cowok itu Erentz. Tapi aku lebih suka memanggilnya dengan sebutan Zi. Sejak pensi itu kami tukeran nomor HP dan sering SMS-an. Dia baik banget….dan perhatian banget. Kami sering jalan bareng. Apalagi buat ngeburu aksi-aksi panggung Nidji. Maklum, kita berduatermasuk daftar NidjiholicJ.
Aku merasa begitu nyaman didekatnya. My new bestfriend. Begitulah anggapanku pada Zi…….mulanya! Tapi semua terasa begitu berbeda setelah suatu waktu, aku tanpa sengaja melihatnya jalan bareng cewek di sebuah mall. Dan pas aku klarifikasi…….Zi memang membenarkan kalau itu adalah ceweknya.
Nggak tahu kenapa, saat itu jantungku serasa loncat dari tempatnya. Ada sesuatu yang seakan menghantam keras ke dada. Dan sejujurnya, aku nggak suka dengan perasaan itu. Mungkinkah? Jangankan mengucapkannya…memikirkan kata yang satu itu saja, aku amat enggan. Kubiarkan saja semua itu terkubur dalam,pada alam bawah sadarku.
Dua bulan setelah kejadian di mall itu, aku ternyata harus pindah ke sekolah Zi, karena papa harus tugas di luar daerah. Mama ikut mendampingi dan aku pun dititipkan di rumah tanteyang notabene wilayah sekolah terdekatnya adalah sekolah Zi. What a small world!
Memang…aku jadi bisa lebih sering bertemu dengan Zi, tapi aku juga mulai merasa tertekan dengan pemandangan Zi yang selalu jalan berdua dengan Netta, pacarnya. Ke kantin bareng istirahat dijenguk ke kelasnya. Bahkan Zi bersikap jauh dari akrab denganku saat ia bersama Netta. OMG….aku tahu seharusnya aku nggak merasa semarah ini. Aku nggak berhak. Aku nggak tahu lagi harus kubuang kemana semua perasaan ini.
Sampai datang saat itu…saat dimana setelah Zi sulit sekali untuk dihubungi dan sudah nggak masuk selama 1 minggu. Aku dengar dari Irwan, sahabat dekat Zi, kalau ia mau meneruskan sekolah ke Amrik, tempat ortunya ditugaskan sebagai diplomat.
Maka disanalah aku…di toilet perempuan, terisak tanpa henti. Shock, dan tiba-tiba merasa takut kehilangan. Saat itu….semua perasaanku selama ini seakan tergambar jelas. Aku sudah jatuh cinta padanya. Seakan kalut dikejar waktu yang semakin sempit untuk bertemu dengannya, 2 hari sebelum keberangkatannya,aku memutuskan untuk meneleponnya untuk menyatakan perasaanku padanya. This is mad!! Pikirku. Tapi akupun tak mampu bertemu muka dengannya. Tidak mampu membendung rasa sayangku………yang tak seharusnya kumiliki. Juga tak mampu untuk menahan rasa takut kehilangan, yang akan tergambar jelas di wajahku, serta terbaca jelas di mataku bila aku bertemu dengannya.
***
Suara di line seberang meredup..perlahan terdengar lagi. Suara yang begitu menenangkan. Tanpa pernyataan balik yang akupun tidak mengharapkannya. Mungkin karena takut merasa kecewa mendengar reaksinya. Zi mengajakku untuk mengantarnya ke bandara,tapi aku enggan. Aku memilih untuk tetap begini saja. Perpisahan yang manis ditelepon.
Tibalah hari keberangkatannya. Hari yang mengusik ketenanganku. Dan dalam waktu 2 jam sebelum keberangkatannya, aku berubah pikiran. Kularikan mobil ke bandara. Hanya sekali…pikirku. Sekali ini saja untuk terakhir kali melihat wajahnya dan menatap matanya….yang entah kapan lagi akan bertemu. Aku berlari sekuat tenaga ketika tiba di bandara. Mencari ditengah lalu lalang orang-orang. Daan disitulah dia, berdiri, cukup jauh, tapi cukup jelas untuk saling melihat. Aku terdiam, tidak dapat mendekat karena ada Netta disana. Aku tidak ingin Netta membaca kesedihanku. Aku ingin memastikan paandangan itu…..pandangan Zi. Menyelidik, jikakah ada…somewhere in his heart…walau tak sebesar ruang yang dimiliki Netta,rasa sayangnya padaku.
Ia disana,melihatku pula. Menatap, dengan penuh makna. Kurasa Netta yang berdiri membelakangiku tidak tahu kehadiranku disana. Seakan aku bertanya dari tatapanku padanya, adakah sayangnya padaku? Dan ia mendekap Netta………cukuplah bagiku jawabannya.
***
Mobilku melaju meninggalkan bandara, meninggalkan pemandangan sedih perpisahan itu. Lagu Nidji mengiringi lajuku. Mengingatkanku saat pertama kali bertemu dengannya. Mengingatkanku saat hunting sebagai Nidjiholic bersama. Mengingatkan gambaran perasaanku saat ini…..hapus aku. Ya……hapus aku.
Yakinkan aku Tuhan….dia bukan milikku,
Biarkan waktu……waktu…..
Hapus aku…….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar